7 Penyakit Utama Tanaman Cabai dan Terong serta Cara Mengatasinya

Terong

Tanaman terong dan cabai adalah anggota keluarga Solanaceae yang populer dan sering ditemui di berbagai negara di seluruh dunia. Meskipun memiliki kegunaan dan penampilan yang berbeda, keduanya termasuk dalam taksonomi yang sama. Dalam artikel ini, kita akan mengenal lebih jauh tentang terong dan cabai serta berbagai macam penyakit tanaman yang sering menyerang keduanya.

Keluarga Solanaceae, juga dikenal sebagai keluarga Solanum, adalah keluarga tumbuhan berbunga yang terdiri dari lebih dari 90 genus dan ribuan spesies. Terong (Solanum melongena) dan cabai (Capsicum annuum) adalah dua anggota keluarga ini yang paling umum ditemui dan dikonsumsi.

Terong adalah tanaman yang berasal dari Asia Selatan dan telah menjadi bagian penting dari berbagai masakan di seluruh dunia. Tanaman ini memiliki batang yang tegak, daun-daun yang lebar, dan buah berbentuk bulat, oval, atau lonjong yang bervariasi dalam ukuran dan warna. Terong dapat memiliki warna ungu, hijau, atau putih, tergantung pada varietasnya. Beberapa varietas terong terkenal antara lain terong ungu, terong jepang, dan terong hijau.

Cabai, di sisi lain, adalah tanaman yang berasal dari Amerika Tengah dan Amerika Selatan. Tanaman ini memiliki batang yang tegak atau merambat, daun-daun yang kecil, dan buah yang umumnya berbentuk kerucut atau silindris. Cabai tersedia dalam berbagai variasi warna, seperti merah, kuning, hijau, oranye, dan bahkan ungu. Beberapa varietas cabai yang terkenal termasuk cabai rawit, cabai merah besar, cabai jalapeno, dan cabai habanero.

Secara taksonomi, terong dan cabai memiliki klasifikasi yang mirip. Berikut adalah taksonomi umum untuk kedua tanaman tersebut

  • Kerajaan : Plantae (Tumbuhan)
  • Divisi : Magnoliophyta (Tumbuhan berbunga)
  • Kelas : Magnoliopsida (Dicotyledoneae)
  • Ordo : Solanales
  • Famili : Solanaceae (Keluarga Solanum)
  • Genus : Solanum (Terong)
  • Genus : Capsicum (Cabai)
  • Spesies : Solanum melongena (Terong)
  • Spesies : Capsicum annuum (Cabai)

Meskipun terong dan cabai memiliki taksonomi yang mirip, perbedaan terbesar antara keduanya terletak pada jenis buah yang dihasilkan. Terong menghasilkan buah berdaging, sedangkan cabai menghasilkan buah berisi biji-bijian yang pedas. Ini karena terong termasuk dalam kelompok buah-buahan botani, sedangkan cabai termasuk dalam kelompok sayuran yang biasa digunakan sebagai bumbu atau bahan makanan.

Terong dan cabai memiliki sejarah panjang dalam penggunaan manusia. Mereka telah digunakan dalam berbagai hidangan, mulai dari kari, tumis, sup, hingga hidangan penutup. Selain itu, terong dan cabai juga memiliki manfaat kesehatan yang signifikan. Terong mengandung serat, vitamin, dan mineral, sementara cabai mengandung senyawa capsaicin yang dapat membantu meningkatkan metabolisme dan meredakan rasa sakit.

Penyakit yang Menyerang Tanaman Cabai dan Terong

1. Bercak Daun (Cercospora capsici Heald et Wolf)

Penyebab Penyakit Bercak Daun

Bercak daun adalah penyakit yang umum terjadi pada cabai, terutama pada cabai merah (Capsicum annuum). Penyakit ini disebabkan oleh Cercospora sp., sejenis jamur patogen. Penyakit ini sering dijumpai di daerah dataran tinggi dan dianggap sebagai penyakit yang penting, terutama pada tanaman paprika. Namun, bercak daun juga ditemukan di daerah dataran rendah, termasuk di daerah transmigrasi Lampung. Penyebaran penyakit ini tidak terbatas hanya di Indonesia, tetapi juga di negara-negara tetangga seperti Singapura, Malaysia, Thailand, dan Filipina. Meskipun penyakit ini tersebar luas, secara umum, dampaknya tidak dianggap sebagai ancaman serius bagi tanaman cabai.

Gejala Penyakit Bercak Daun

Tanaman yang terinfeksi akan menunjukkan gejala berupa bercak cokelat kehitaman pada permukaan daun, yang dapat menyebabkan daun menjadi layu dan kering. Daun tanaman akan mengalami keberadaan bercak-bercak kecil dan basah saat terinfeksi penyakit ini. Bercak tersebut dapat meluas dengan ukuran garis tengah mencapai 0,5 cm atau lebih, dengan pusat yang berwarna pucat hingga putih dan tepi yang lebih gelap. Bercak yang sudah tua mungkin akan berlubang. Pada paprika, terlihat bahwa bercak memiliki pola jalur-jalur yang berpusat, yang lebih jelas terlihat pada permukaan atas daun. Jika daun terdapat banyak bercak, maka daun akan dengan cepat menguning dan gugur, atau bahkan gugur tanpa menguning terlebih dahulu. Bercak ini juga sering ditemukan pada batang, tangkai daun, dan tangkai buah, tetapi sangat jarang terjadi pada buah itu sendiri.

Baca juga : 7 Jenis hama utama tanaman cabai.

Pengendalian Penyakit Bercak Daun

Untuk mengendalikan penyakit ini, ada beberapa metode yang dapat dilakukan. Salah satunya adalah dengan cara manual, yaitu menggunakan benih yang berkualitas dan menjaga sanitasi lahan dengan baik. Hal ini melibatkan pemilihan benih yang bebas dari infeksi penyakit dan membersihkan lahan dari sisa-sisa tanaman yang terinfeksi. Selain itu, pengendalian dapat dilakukan secara kimiawi dengan menggunakan fungisida yang sesuai dengan dosis yang direkomendasikan, yang akan membantu dalam membasmi jamur penyebab penyakit ini. Fungisida yang dapat digunakan antara lain fungisida berbahan aktif tembaga. Selain itu dapat juga menggunakan fungisida Antracol (Propineb), walau tidah mengendalikan secara langsung namun mampu menghindarkan tanaman dari serangan bercak daun dan mampu meningkatkan produksi tanaman menjadi lebih tinggi.

2. Antraknosa (Gloesporium melongena)

Penyebab Penyakit Antraknosa

Penyakit antraknosa disebabkan oleh jamur Gloesporium melongena. Penyakit antraknosa pada cabai besar telah menyebar secara luas di berbagai daerah di seluruh dunia, di mana cabai ditanam. Di beberapa negara, penyakit ini dianggap terdiri dari dua penyakit berbeda yang disebabkan oleh dua jamur yang berbeda. Penyakit Gloeosporium dikenal sebagai antraknosa, sementara yang disebabkan oleh jamur Colletotrichum disebut "busuk matang" atau dalam bahasa Inggris disebut "ripe rot".

Gejala Penyakit Antraknosa

Tanaman yang terinfeksi akan menunjukkan gejala berupa bercak coklat kehitaman pada permukaan daun, selain itu daun juga akan mengalami keriting dan menggulung. Gloeosporium piperatum adalah jamur yang dapat menyerang buah cabai dalam keadaan masih hijau, dan juga dapat menyebabkan kondisi mati ujung pada tanaman (die back). Gejala yang disebabkan oleh Gloeosporium piperatum awalnya berupa bintik-bintik kecil berwarna kehitaman dengan tepi yang berlekuk, terutama pada buah yang masih hijau atau sudah matang. Bintik-bintik ini kemudian membesar dan memanjang dengan tepi yang berwarna kuning. Bagian tengah bintik menjadi semakin gelap. Pada kondisi cuaca yang lembab, jamur ini membentuk struktur reproduksi yang disebut badan buah (aservulus) dalam pola lingkaran-lingkaran berpusat, yang menghasilkan massa spora berwarna merah jambu yang disebut konidium. Penyakit ini dapat terus berkembang saat buah cabai disimpan atau diangkut. Gloeosporium piperatum juga dapat menyerang daun dan batang tanaman tanpa menyebabkan kerugian yang signifikan. Namun, dari sini, jamur ini dapat menyerang buah di kemudian hari.

Baca Juga

Jamur Colletotrichum capsici, pada awalnya, membentuk bercak coklat kehitaman yang kemudian meluas menjadi busuk lunak. Pada bagian tengah bercak terdapat kumpulan titik-titik hitam yang terdiri dari kelompok struktur reproduksi jamur yang disebut seta dan konidium. Serangan yang parah dapat menyebabkan seluruh buah mengering dan mengerut (keriput). Buah yang seharusnya berwarna merah menjadi berwarna seperti jerami. Jika cuaca kering, jamur ini hanya membentuk bercak kecil yang tidak meluas. Namun, setelah buah dipetik, jika kelembaban udara tinggi selama penyimpanan dan pengangkutan, jamur ini akan berkembang dengan cepat. Di India, C. capsici juga menyerang ranting-ranting muda dan menyebabkan kondisi mati ujung (die-back).

Pengendalian Penyakit Antraknosa

Untuk mengendalikan penyakit ini, ada beberapa metode yang dapat dilakukan. Salah satunya adalah dengan cara manual, yaitu dengan menjaga kebersihan lahan, seperti membersihkan sisa-sisa tanaman yang terinfeksi dan menjaga kelembaban yang seimbang. Selain itu, pengendalian dapat dilakukan dengan menggunakan benih yang tahan terhadap penyakit ini. Selain itu, penggunaan fungisida juga bisa dilakukan untuk mengendalikan penyakit ini, dengan melakukan penyemprotan sesuai dengan dosis yang dianjurkan. Macam-macam fungisida dapat dipakai untuk keperluan ini, antara lain Antracol (propineb), Velimek (maneb dan zineb), Delsene MX-200 (karbendazim dan mankozeb), Benlate dan Manzate (benomyl dan maneb), Ditha- ne M-45 (mankozeb), Dithane Z-78 (zineb), dan fungisida tembaga.

3. Busuk Buah (Phytophthora Spp)

Penyebab Penyakit Busuk Buah

Penyakit busuk buah disebabkan oleh jamur Phytophthora sp. Di Jawa, terkadang cabai mengalami kerusakan buah yang disebabkan oleh jamur Phytophthora. Sedangkan pada terung, penyakit serupa juga dapat ditemukan di Sumatera. Penyakit busuk buah yang disebabkan oleh Phytophthora tersebar di berbagai negara penanam cabai dan terung, termasuk Indonesia. Selain itu, Malaysia juga merupakan salah satu negara di mana penyakit ini dapat ditemukan. Menurut Reitsma dan Slooff (1947) buah terung yang terseang penyakit ini disebabkan oleh dua spesies Phytophthora, yaitu Phytophthora nicotianae B. de Haan var. parasitica (Dast.) Waterh. (Ph. parasitica Dast.) dan Ph. palmivora Butl. Sedangka, Menurut Anon. (1988) Phytophthora yang menyebabkan busuk buah pada tanaman cabai adalah Phytophthora capsici Leonian.

Gejala Penyakit Busuk Buah

Ketika buah terinfeksi penyakit ini, akan terbentuk bercak berwarna cokelat kehitaman pada buah dan kemudian buah akan membusuk dan mudah jatuh. Pada buah cabai, awalnya terjadi bercak kecil yang basah dan berwarna hijau suram, yang dengan cepat meluas dan menutupi seluruh buah. Buah kemudian mengering dengan cepat dan menjadi mummi. Biji juga terpengaruh, berubah menjadi coklat dan keriput. Pada buah terung, awalnya terbentuk bercak yang basah dengan garis tengah sekitar 0,5 cm. Bercak tersebut kemudian meluas dengan cepat sepanjang sumbu panjang, membuatnya berbentuk memanjang. Pada jenis terung yang berbentuk bulat dan berwarna ungu, bercak tetap berbentuk bulat dan memiliki warna yang lebih gelap. Bagian dalam buah mengalami perubahan warna, menjadi basah dan membentuk batas coklat yang tidak teratur. Akhirnya, buah terlepas dari kelopaknya dan menjadi busuk secara keseluruhan.

Pengendalian Penyakit Busuk Buah

Untuk mengendalikan penyakit ini, ada beberapa metode yang dapat dilakukan. Salah satunya adalah dengan cara manual, yaitu dengan memetik dan membuang buah yang telah terinfeksi atau membusuk. Hal ini penting untuk mencegah penyebaran penyakit ke buah-buah yang sehat. Selain itu, pengendalian dapat dilakukan secara kimiawi dengan menggunakan fungisida yang sesuai dengan anjuran, melalui penyemprotan pada tanaman sesuai dengan dosis yang dianjurkan untuk menghambat pertumbuhan jamur penyebab penyakit ini. Fungisida yang dapat digunakan antara lain fungisida tembaga atau karbamat, misalnya Dithane M-45 (mankozeb).

4. Layu Bakteri (Pseudomonas solanacearum (E.F. Sm.) E.F. Sm.)

Penyebab Penyakit Layu Bakteri

Penyakit layu bakteri disebabkan oleh bakteri Pseudomonas solanacearum. Penyakit layu bakteri, yang banyak mengganggu tanaman kentang dan tomat, juga sering terdapat pada cabai dan terung, meskipun kerugian yang disebabkannya tidak sebesar pada kedua tanaman kentang dan tomat.

Gejala Penyakit Layu Bakteri

Tanda-tanda awal serangan bakteri Pseudomonas solanacearum dapat terlihat ketika bagian tanaman tiba-tiba mengalami kelayuan. Awalnya, bakteri ini tidak menyebabkan kekuningan seluruh tanaman cabai, tetapi hanya beberapa bagian seperti pucuk daun, tunas, atau daun yang sudah tua. Secara bertahap, tanaman cabai akan mengalami kekuningan secara keseluruhan dan pada akhirnya mati. Tanaman yang terinfeksi Pseudomonas solanacearum tetap mengalami kekuningan baik di malam hari maupun siang hari. Gejala yang terjadi pada akar tanaman cabai relatif serupa dengan serangan jamur Fusarium oxysporum, yaitu akar yang membusuk dan berwarna kecoklatan. Serangan bakteri parasit ini sering terjadi saat musim hujan dengan kondisi tanah yang lembab dan tergenang air.

Pengendalian Penyakit Layu Bakteri

Pengendalian penyakit ini dapat dilakukan dengan cara melakukan sanitasi lahan atau juga dengan melakukan penyemprotan bakterisida sesuai dengan anjuran. Selain itu, pemasangan mulsa plastic juga mampu mengurangi resiko tanaman terkena layu bakteri. Menurut Rochani (1987) populasi bakteri dalam tanah dapat dikurangi dengan solarisasi tanah, yaitu dengan menutup tanah yang terinfestasi P. solanacearum memakai lembaran plastik transparan selama 1 bulan. Dengan cara ini suhu tanah sampai sedalam 30 cm dapat dinaikkan 6-9 0C. Populasi bakteri pada kedalaman 10, 20, dan 30 cm berturut-turut dapat ditekan menjadi 3, 32, dan 60%.

5. Mozaik (Virus)

Penyebab Penyakit Mozaik

Tanaman cabai, sering mengalami serangan mosaik yang dapat menyebabkan kerugian yang signifikan. Survei yang dilakukan oleh Suhardi (1988) menunjukkan bahwa penyakit virus ditemukan pada semua pertanaman cabai dan terung di daerah dataran rendah. Gejala mosaik ini dapat disebabkan oleh beberapa jenis virus yang sering menyerang tanaman secara bersamaan. Pada cabai, virus yang paling umum adalah virus mosaik ketimun (Cucumber mosaic virus, CMV), virus betok tembakau (Tobacco Etch Virus, TEV), virus ratel tembakau (Tobacco Rattle Virus), dan virus A kentang (Potato Virus A, PVA). Kadang-kadang juga dapat ditemukan virus Y kentang (Potato Virus Y, PVY), virus M kentang (Potato Virus M, PVM), dan virus bercak cincin tomat (Tomato Ring Spot Virus, TRSV). Pada tanaman terung, penyakit virus utamanya disebabkan oleh virus ratel tembakau (Tobacco Rattle Virus, TRV). Selain itu, terdapat juga virus mosaik ketimun (Cucumber Mosaic Virus, CMV), virus becak cincin tomat (Tomato Ringspot Virus, TRSV), dan tomato bushy stunt virus (TBSV).

Virus mosaik ketimun dapat ditularkan secara mekanis dengan gosokan, maupun oleh kutu daun. Para pekerja yang menangani semai-semai juga dapat menularkan virus ke banyak tanaman. Virus juga mungkin terdapat di dalam banyak tumbuhan, termasuk gulma di sekeliling pertanaman cabai. Virus ratel tembakau mudah ditularkan secara meekanis, dan oleh cacing-cacing akar (nematoda parasitik). yang termasuk marga (genus) Trichodorus. Sedang virus betok tembakau (Tobacco Etch Virus) dapat ditularkan secara mekanis, dan oleh beberapa spesies kutu daun.

Gejala Penyakit  Mozaik

Gejala infeksi virus mosaik ketimun pada tanaman cabai mula-mula tampak sebagai menguningnya tulang-tulang daun, atau terjadinya jalur kuning sepanjang tulang daun. Daun menjadi belang hijau muda dan hijau tua. Daun menjadi lebih kecil dan sempit daripada biasa. Jika tanaman terinfeksi pada waktu masih sangat muda, tanaman terhambat pertumbuhannya dan kerdil. Tanaman sakit menghasilkan buah yang kecil-kecil dan sering tampak berjerawat.

Pengendalian Penyakit Mozaik

Penyakit ini dapat dikendalikan melalui beberapa tindakan yang efektif. Pertama, penting untuk memberantas gulma, terutama yang termasuk dalam keluarga Solanaceae seperti tanaman terung-terungan. Hal ini akan membantu mengurangi sumber infeksi dan penyebaran penyakit. Kedua, perlakukan bibit dengan hati-hati dan pastikan tangan telah dicuci dengan sabun atau deterjen sebelum menangani bibit. Tindakan ini akan membantu mencegah penularan virus melalui kontaminasi. Ketiga, jika tanaman menunjukkan gejala penyakit, segera cabut tanaman tersebut untuk mencegah penyebaran lebih lanjut.

Hingga saat ini, belum ada varietas cabai yang memiliki ketahanan terhadap virus mosaik ketimun. Namun, pengamatan di lapangan menunjukkan bahwa ada beberapa kultivar cabai yang memiliki toleransi terhadap virus utama yang menyerang cabai, seperti Tit di Brebes, dan Panda serta Rawit Putih di Malang. Terdapat harapan bahwa virus mosaik ketimun (CMV) dapat dikendalikan dengan menggunakan satelit virus yang dikenal sebagai CMV Associated RNA 5 atau CARNA 5.

6. Layu Fusarium

Penyebab Layu Fusarium

Selain layu karena bakteri (Pseudomonas solanacearum), pada cabai terdapat penyakit layu yang disebabkan oleh jamur Fusarium oxysporum Schlecht., sedang pada terung oleh Fusarium oxysporum f.sp. melongenae Matuo et Ishigami. Penyakit ini menjadi ancaman serius karena tidak ada pengobatan atau penyembuhan yang efektif setelah tanaman terinfeksi. Serangan layu fusarium dapat menghancurkan seluruh tanaman dan menyebabkan gagal panen. Penyakit ini dapat terjadi kapan saja, baik di musim kemarau maupun musim hujan. Serangan yang parah biasanya terjadi saat musim hujan dengan kelembaban yang tinggi, karena kondisi tersebut memungkinkan jamur Fusarium oxysporum untuk berkembang dan menyebar dengan mudah. Penyebaran jamur ini dibantu oleh air, peralatan pertanian, dan manusia. Pertumbuhan spora jamur Fusarium oxysporum mengganggu pasokan air ke tanaman, menyebabkan layu dan akhirnya kematian perlahan. Penyakit layu fusarium dapat menyerang mulai dari fase bibit hingga tanaman yang sudah berproduksi.

Gejala Layu Fusarium

Gejala yang terlihat pada fase bibit adalah kelayuan dan kematian tiba-tiba pada pucuk tanaman. Pada tanaman muda dan dewasa, gejala serangan layu fusarium ditandai dengan tanaman cabai yang layu pada siang hari dan terlihat segar kembali pada sore hari. Fenomena ini berlangsung sekitar tujuh hari sebelum akhirnya tanaman cabai mengering dan mati. Jika tanaman dicabut, akar akan terlihat berwarna kecoklatan dan membusuk. Jika batang dipotong melintang, terlihat lingkaran coklat kehitaman yang menunjukkan kerusakan dan pembusukan pada pembuluh pengangkut. Jamur berada di dalam pembuluh kayu dan menyebabkan jaringan ini berwarna coklat. Berbeda dengan pada layu bakteri, di sini batang tidak mengeluarkan lendir bila dipotong. Selain itu pada layu bakteri sering terjadi pembusukan pada empulur.

Pengendalian Layu Fusarium

Beberapa tindakan yang dapat dilakukan untuk mengendalikan layu fusarium antara lain: (a) Melakukan pengolahan lahan yang baik, (b) Menjaga sanitasi lahan dengan baik, (c) Menggunakan benih yang tahan terhadap fusarium, (d) Menggunakan mulsa plastik, (e) Membuang tanaman yang terinfeksi, (f) Menerapkan aplikasi trichoderma, dan (g) Meskipun tidak ada bahan aktif yang sepenuhnya efektif dalam mengatasi layu fusarium, dapat dicoba menggunakan fungisida dengan bahan aktif benomil atau metalaksil.

7. Rebah Semai

Rebah semai (damping-off) sering terjadi di pesemaian cabai maupun terung. Biji dapat membusuk di dalam tanah, atau semai-semai dapat mati sebelum muncul ke permukaan tanah. Batang semai (bibit) muda yang masih lunak terserang pada pangkalnya, menjadi kebasah-basahan, mengerut, sehingga semai roboh dan mati. Penyakit disebabkan oleh jamur-jamur yang umum terdapat dalam tanah, terutama Rhizoctonia solani Kuhn (Thanatephorus cucumeris (Frank) Donk) dan Pythium spp. Rhizoctonia solani sering mempunyai miselium seperti sarang labah-labah di permukaan tanah, yang terlihat jelas pada waktu pagi karena adanya tetes-tetes embun yang bergantungan. Penyebab rebah semai adalah jamur-jamur yang polifag, yang dapat menyerang semai dari bermacam-macam tanaman. Untuk mengendalikannya harus diusahakari agar tanah pesemaian tidak terlalu lembab.

Demikianlah sedikit ulasan terkait beberapa penyakit utama yang sering menyerang tanaman cabai dan terong. semoga dengan sedikit ulasan ini bisa membantu para pembaca semua. Jangan lupa share artikel ini agar informasi ini dapat bermanfaat bagi lebih banyak orang lagi. Salam tani.

Lebih baru Lebih lama

نموذج الاتصال