7 Jenis Hama Pada Tanaman Cabai dan Cara Mengatasinya

Kutu Daun

Hama dan penyakit adalah dua faktor utama yang menyebabkan kerusakan pada tanaman. Meskipun keduanya memiliki peran yang berbeda dalam penyebab dan efeknya. Hama merujuk pada organisme yang merusak tanaman, seperti akar, batang, daun, atau bagian lainnya, yang mengakibatkan pertumbuhan tanaman terhambat atau bahkan mati. Secara umum, hama mencakup semua bentuk gangguan terhadap manusia, ternak, dan tanaman. Dalam konteks budidaya tanaman, hama merujuk pada semua jenis hewan yang merusak tanaman atau hasil panennya dengan dampak ekonomis yang signifikan. Keberadaan hewan-hewan ini di suatu pertanaman belum dianggap sebagai hama jika belum menyebabkan kerugian ekonomis, namun potensi mereka sebagai hama perlu dimonitor melalui kegiatan pemantauan. Secara umum, hewan-hewan yang dapat menjadi hama meliputi serangga, moluska, tungau, tikus, burung, atau mamalia besar. Suatu jenis hewan mungkin dianggap sebagai hama di suatu daerah, tetapi belum tentu menjadi hama di daerah lain.

Hama pada tanaman cabai merupakan masalah serius karena dapat merusak tanaman dan menularkan virus keriting daun yang berbahaya. Serangan hama ini sangat berdampak negatif terhadap pertumbuhan dan hasil panen tanaman cabai. Untuk melindungi tanaman dari serangan hama, salah satu langkah yang dapat dilakukan adalah menjauhkan tanaman yang sehat dari hama tersebut. Penyemprotan insektisida secara teratur dengan dosis yang tepat juga merupakan metode yang efektif, tetapi perlu diperhatikan agar tidak membuat hama tersebut menjadi kebal terhadap insektisida. Jika tanaman cabai sudah terinfeksi, kita perlu berusaha agar serangan tidak semakin parah. Di bawah ini akan dijelaskan beberapa jenis hama yang sering menyerang tanaman cabai beserta cara mengatasi serangan tersebut.

1. Trips

Daur Hidup Trips

Thrips adalah serangga kecil dengan ukuran sekitar 1-2 mm. Thrips dewasa memiliki tubuh kehitaman dengan totol merah atau garis, sedangkan thrips muda memiliki tubuh agak keputihan atau kekuningan. Biasanya, serangga ini meletakkan telur secara acak di bawah daun. Telur thrips berbentuk oval atau mirip ginjal. Setelah menetas, mereka berubah menjadi nimfa. Selama hidupnya, nimfa melewati beberapa tahap untuk menjadi pupa. Pupa tersebut kemudian berkembang menjadi thrips muda yang berwarna keputihan atau kekuningan. Pupa tidak dapat terbang, hanya meloncat-loncat saja.

Baca juga : 7 Penyakit utama pada tanaman cabai dan cara mengatasinya.

Baca Juga

Telur yang belum menetas dan nimfa tidak hanya ada di bawah daun, tetapi juga dapat ditemukan di dalam tanah di sekitar tanaman. Perkembangbiakan dari pupa menjadi thrips muda terjadi ketika udara relatif kering dan suhu relatif tinggi. Siklus hidup hama ini berlangsung selama sekitar 20 hari. Penyebaran thrips dapat terjadi dengan cepat melalui angin atau manusia.

Gejala Serangan Trips

Thrips menyebabkan kerusakan pada tanaman dengan cara menghisap cairan tanaman, yang mengakibatkan kerusakan sel-sel tanaman. Biasanya, kerusakan sel ditandai dengan adanya bercak-bercak putih yang berkilau pada daun karena kehilangan cairan. Bercak tersebut kemudian berubah menjadi cokelat. Daun secara perlahan akan mati. Jika serangan sangat parah, daun, pucuk, dan tunas baru akan menggulung ke dalam dan terjadi pembentukan benjolan seperti tumor pada daun. Akibatnya, pertumbuhan tunas akan terhambat dan tanaman akan menjadi kerdil.

Pengendalian Hama Trips

Jika terdapat tanaman yang telah diserang oleh hama thrips di area pertanaman, disarankan untuk membongkar dan memusnahkan tanaman tersebut. Hal ini dilakukan untuk mencegah penyebaran hama pada tanaman lain yang masih sehat. Untuk mengatasi serangan thrips yang belum parah, penggunaan insektisida kontak atau sistemik sangat dianjurkan. Beberapa insektisida yang dapat digunakan antara lain Nudrin 24 dan Tokuthion 500 EC, dengan dosis yang disesuaikan sesuai petunjuk pada kemasan. Insektisida tersebut perlu disemprotkan secara merata pada permukaan daun bagian atas dan bawah. Interval waktu penyemprotan harus disesuaikan dengan siklus hidup hama, yang berlangsung sekitar 20 hari. Dengan interval penyemprotan sekitar 10 hari sebelum atau setelah serangan, sehingga tanaman dapat terhindar dari serangan yang lebih parah. Selain itu pemberian insektisida butiran yang ditaburkan dalam tanah juga dapat sangat membantu. Hal ini dikarenakan pupa thrips banyak tersebar di dalam tanah di sekitar tanaman. Beberapa jenis insektisida butiran yang sering digunakan oleh petani meliputi Furadan 3G dan Temik 3G.

2. Kutu Daun (Aphids)

Daur Hidup Kutu Daun

Kutu daun atau aphids memiliki kemampuan berkembang biak melalui metode melahirkan. Mereka mengalami proses parthenogenesis, di mana sel telur dapat berkembang menjadi individu baru tanpa pembuahan. Setiap kutu dewasa mampu melahirkan hingga 50 anak per minggu. Nimfa yang baru lahir akan mencapai dewasa dalam waktu 6 hari. Hal ini terjadi karena embrio di dalam tubuh nimfa juga mengalami perkembangan saat nimfa tersebut tumbuh menjadi dewasa.

Gejala Serangan Kutu Daun

Serangan kutu daun biasanya terjadi pada awal musim kemarau, di mana udara menjadi kering dan suhu meningkat. Pucuk tanaman dan daun muda menjadi sasaran utama serangan ini. Kutu daun hidup dalam kelompok yang padat sehingga mereka dapat menutupi bagian yang diserang. Dampak dari serangan kutu daun ini adalah mengerutnya daun dan keringnya pucuk tanaman, sehingga mengganggu pertumbuhan tanaman secara keseluruhan. Selain itu, kutu daun juga mengeluarkan cairan manis seperti madu yang menarik kehadiran semut.

Seringkali serangan kutu daun diikuti oleh pertumbuhan jamur berwarna hitam yang disebut cendawan jelaga. Pada serangan yang parah, tanaman menjadi keriting dan terdapat lapisan hitam yang terbentuk oleh cendawan jelaga. Lapisan tersebut menghambat sinar matahari agar tidak mencapai butiran hijau daun (klorofil), mengganggu proses fotosintesis pada tanaman. Jika tidak diatasi, tanaman dapat mati.

Kutu daun bukan hanya merusak tanaman cabai, tetapi juga bertindak sebagai penyebar virus. Kutu ini dapat dengan mudah terbang dan berpindah tempat, serta tubuhnya yang ringan memungkinkannya untuk terbawa oleh angin. Oleh karena itu, tidak mengherankan bahwa kemampuan kutu daun dalam menyebar dan menyebarkan virus sangat cepat dan efektif. Jika satu tanaman terinfeksi virus, penyebarannya ke tanaman cabai lainnya tidak akan membutuhkan waktu lama, meskipun jarak antar tanaman cukup jauh.

Pengendalian Hama Kutu Daun

Untuk mencegah serangan kutu daun, dapat dilakukan penyemprotan insektisida dengan menggunakan jenis insektisida kontak maupun sistemik. Beberapa jenis insektisida yang dapat digunakan adalah Tokuthion 500 EC, Anthion 33 EC, Folithin 50 EC, dan Karphos 25 EC. Penggunaan insektisida harus sesuai dengan petunjuk yang tertera pada label kemasan. Waktu penyemprotan perlu memperhatikan siklus hidup kutu daun yang memerlukan waktu sekitar 6 hari untuk mencapai dewasa dan melahirkan anak. Sebagai contoh, interval penyemprotan selama 7 hari dapat dijadikan pertimbangan. Namun, jika terjadi serangan yang lebih parah atau di luar kebiasaan, disarankan untuk melakukan penyemprotan dengan interval waktu kurang dari 7 hari.

3. Tungau

Daur Hidup Tungau

Tungau merupakan hama berbentuk seperti laba-laba, tetapi berukuran kurang dari 1 mm. Tungau betina dapat bertelur sebanyak 20 telur per hari dan memiliki umur hidup antara 2 hingga 4 minggu. Dalam waktu satu bulan tungau betina mampu berkembang biak hingga satu juta tungau. Dalam siklus hidupnya, tungau menetas dan mencapai dewasa serta siap untuk berkembang biak dalam waktu sekitar 15 hari. Tungau dewasa memiliki warna merah dengan mulut berwarna putih, sedangkan telurnya berwarna kuning pucat. Setelah menetas, larva memiliki warna merah muda. Setelah mencapai tahap nimfa, tungau akan mengalami pergantian kulit. Selongsong kulit larva dan nimfa berwarna putih dan akan melekat pada daun.

Gejala Serangan Tungau

Terdapat dua jenis hama tungau yang umum menyerang tanaman cabai, yaitu tungau kuning (Polyphagotarsonemus latus) dan tungau merah (Tetranycus sp.). Tungau dewasa memiliki kebiasaan menghisap cairan tanaman dengan rakus, yang dapat menyebabkan kerusakan yang signifikan secara mendadak. Seperti hama lainnya, ada kemungkinan bahwa tungau juga menjadi vektor penularan penyakit virus.

Tungau dapat merusak daun, pucuk, dan tunas muda tanaman. Bagian yang diserang akan mengalami pertumbuhan yang tidak normal dan perubahan warna. Selanjutnya, daun akan mengerut dan menggulung. Tanda-tanda keberadaan tungau pada daun biasanya terlihat dari titik-titik kecil berwarna merah, kuning, atau putih. Titik-titik ini akan terlihat bergerak lambat di bawah lapisan benang yang sangat halus. Titik-titik ini merupakan tungau tersebut, dengan titik berwarna merah merupakan tungau dewasa, sedangkan titik berwarna kuning atau putih adalah telur atau tungau muda yang belum menetas. Seperti hama lainnya, tungau juga cenderung melakukan serangan yang lebih intensif pada musim kering dengan suhu yang tinggi. Secara umum, hama-hama penyebab kerusakan daun yang mengakibatkan keriting lebih sensitif terhadap curah hujan yang tinggi dan kelembapan yang tinggi (di atas 70-80%).

Pengendalian Tungau

Apabila terdapat gejala serangan tungau, segera lakukan tindakan penyemprotan menggunakan akarisida, yaitu jenis pestisida khusus yang digunakan untuk membunuh hama dari kelompok kutu-kutuan. Beberapa pilihan insektisida yang dapat digunakan untuk mengendalikan dan memberantas tungau adalah Tokuthion 500 EC, Trithion 4 EC, atau Omite 57 EC. Penggunaan insektisida ini dilakukan melalui penyemprotan. Disarankan untuk mengikuti takaran yang disarankan sesuai petunjuk yang tertera pada label kemasan.

4. Hama Lain pada Tanaman Cabai

Ulat

Salah satu spesies ulat yang menyerang tanaman cabai antara lain adalah ulat peridroma saucia, atau lebih dikenal sebagai cutworms, sering menyerang tanaman saat musim kemarau. Ulat ini merusak tunas, daun, dan buah pada tanaman. Untuk mengendalikannya, bisa mencoba menggunakan insektisida Diazinon 40 EC. Selanjutnya ada ulat Heliothis sp. juga sering memangsa buah cabai. Ulat dewasa dapat dikendalikan dengan menggunakan insektisida seperti Baythroid 50 WSC atau Cymbush 5 EC. Terdapat pula ulat lain yang menyerang tanaman cabai seperti Protoparce quinquemaculata, yang dikenal sebagai hornworm, atau Spodoptera sp. Ulat-ulat tersebut dapat diberantas dengan penggunaan insektisida Ripcord 5 EC. Untuk jenis ulat lainnya, dapat digunakan insektisida Bayrusil 250 EC.

Kumbang

Salah satu jenis kumbang yang sering menyerang tanaman cabai adalah Systena blanda, juga dikenal sebagai flea beetles. Kumbang dewasanya tidak langsung menyerang tanaman, melainkan larvanya yang tinggal di dalam tanah dan dapat merusak akar tanaman. Untuk mengendalikan serangan kumbang ini, dapat dicoba menggunakan insektisida yang sesuai. Mengingat telur kumbang ini biasanya diletakkan di dalam tanah sebelum menetas menjadi larva, langkah pengendalian sederhana yang bisa dilakukan adalah dengan sering melakukan penggemburan tanah di sekitar tanaman. Metode ini cukup efektif karena menghalangi telur untuk menetas.

Lalat Buah

Lalat buah (Dacus sp) tidak hanya menyerang buah yang sudah tua, tetapi juga dapat menyerang buah yang masih muda. Serangan lalat buah umumnya ditandai dengan perubahan warna menjadi kehitaman pada buah yang terkena. Bagian yang diserang kemudian akan mengeras. Mengendalikan lalat buah cukup sulit. Namun, untuk mencegah serangan lalat buah, dapat dicoba menggunakan insektisida seperti Hostathion 75 EC atau Bayrusil 250 EC.

Nematoda

Nematoda lebih dikenal dengan cacing. Untuk mengendalikan serangannya dapat dicoba dengan penggunaan nemastida Furadan 3 G atau Temik 10 G. 

Demikianlah sedikit ulasan tentang jenis-jenis hama yang menyerang pada tanaman cabai dan cara mengatasinya. Semoga dengan hadirnya ulasan ini dapat membantu pembaca semuanya dimanapun berada, shingga harapannya mampu mengantisipasi serangan hama tersebut dan mampu meningkatkan produksi tanaman cabai. Terima kasih sudah mampir, jangan lupa share artikel ini agar memberi manfaat yang lebih luas lagi.
Lebih baru Lebih lama

نموذج الاتصال