Mengenal Tanaman Cabai Rawit

Cabai
Cabai rawit (Capsicum frutescens L.) merupakan salah satu komoditas yang banyak dibutuhkan dalam kehidupan sehari-hari dan kebutuhannya terus meningkat seiring dengan pertambahan penduduk dan kemajuan teknologi. Cabai rawit (Capsicum frutescens L.), yang berasal dari benua Amerika, tersebar secara luas di daerah tropis dan subtropis, termasuk Indonesia. Tanaman ini termasuk dalam kelompok Capsicum, seperti cabai merah dan paprika, dan masuk dalam keluarga Solanaceae, yang juga mencakup terung, tomat, dan kentang. Secara taksonomi, cabai rawit diklasifikasikan sebagai Ordo Tubiflorae, Famili Solanaceae, Genus Capsicum, dan Species Capsicum frutescens L. (Lawrence, 2017). Pada artikel kali ini kita akan belajar bersama tentang teknik budidaya tanaman cabai, terutaman cabai rawit

Karakteristik Tanaman Cabai Rawit

Cabai rawit, yang memiliki nama latin Capsicum frutescens, adalah jenis cabai yang memiliki buah berwarna hijau dan berubah menjadi merah saat matang. Terdapat dua varietas utama cabai rawit, yaitu rawit hijau dan rawit merah. Rawit hijau biasanya dikonsumsi bersama dengan makanan gorengan, sedangkan rawit merah digunakan sebagai bumbu masakan. Persilangan antara varietas cabai rawit merah dan hijau dapat menghasilkan varietas cabai rawit putih yang memiliki warna yang lebih pucat. Selain itu, ada juga persilangan cabai rawit yang menghasilkan cabai rawit berwarna ungu, yang biasanya digunakan sebagai tanaman hias, tetapi tetap bisa dikonsumsi. Tanaman cabai rawit ini relatif mudah dirawat, dan dapat dipanen sekitar 3-4 bulan setelah menanamnya, tergantung pada varietas, suhu, dan nutrisi yang diberikan.

Baca Juga : Pengelompokan Tanaman Hortikultura

Cabai rawit mengandung berbagai gizi dan vitamin penting, seperti kalori, protein, lemak, karbohidrat, kalsium, vitamin A, B1, dan C, serta air. Selain itu, cabai rawit juga mengandung enzim L-Asparaginase dan zat bioaktif kapsaisin, yang memiliki efek anti kanker. Di Indonesia, cabai menjadi bumbu utama dalam berbagai masakan nusantara, sehingga permintaan cabai semakin meningkat. Selain digunakan sebagai bumbu, cabai rawit juga diketahui dapat meningkatkan selera makan beberapa orang (Rusman dkk., 2018).

Related Posts

Cabai rawit termasuk dalam kelompok tanaman perdu dengan ketinggian antara 50 hingga 135 cm. Tanaman ini tumbuh secara tegak lurus, dan akarnya umumnya terletak dekat permukaan tanah dengan perluasan sekitar 30-50 cm secara vertikal. Cabai rawit memiliki akar tunggang dengan sistem perakaran yang sedikit menjalar. Akar cabang tumbuh secara horizontal di dalam tanah, membentuk akar serabut yang rapat (Paul dan Eric, 2012).

Batang cabai rawit tumbuh tegak, kaku, dan tidak memiliki trikoma. Batang ini berfungsi sebagai tempat tumbuhnya cabang, tunas, daun, bunga, dan buah. Kulit batangnya dapat berwarna hijau pada tahap pertumbuhan awal, dan berubah menjadi hijau kecoklatan saat memasuki tahap penuaan dengan banyaknya cabang. Panjang batang berkisar antara 30 hingga 40 cm, dengan diameter 1 hingga 2 cm. Setiap tanaman cabai rawit biasanya memiliki 7 hingga 15 cabang (Bastian, 2016).

Baca Juga : Teknik Budidaya Tanaman Cabai Rawit

Cabai rawit memiliki daun tunggal berwarna hijau muda hingga hijau gelap dengan bentuk bulat telur, lonjong, atau oval. Daun tersebut memiliki tulang menyirip dan permukaan bawah yang berbulu. Bunga cabai termasuk kedalam bunga hermaprodit yang terdiri dari kelamin jantan dan betina, tumbuh dalam tandan dengan warna bermacam-macam, seperti putih, putih kehijauan, dan ungu. Buah cabai rawit memiliki variasi bentuk mulai dari pendek dan bulat hingga panjang dan langsing, berubah warna dari hijau menjadi merah tua saat matang. Daging buahnya lunak dan pedas, sedangkan bijinya berwarna kuning padi dan terdapat di dalam buah yang menempel pada plasenta (Alif, 2017).

Syarat Tumbuh Tanaman Cabai

Pertumbuhan tanaman cabai rawit dipengaruhi oleh berbagai faktor, baik faktor internal maupun faktor eksternal. Faktor eksternal yang mempengaruhi pertumbuhan tanaman cabai rawit antara lain kelembaban, suhu, cahaya matahari, air tanah, pH tanah dan sebagainya yang akan mempengaruhi kesuburan tanah. Tanah yang ideal untuk pertumbuhan cabai rawit adalah yang kaya akan bahan organik, memiliki pH antara 6-7, dan tekstur yang remah. Tanaman ini dapat tumbuh baik di lahan basah (sawah) maupun lahan kering (tegalan). Ketinggian optimal untuk penanaman cabai rawit adalah hingga 900 meter di atas permukaan laut.

Suhu juga mempengaruhi pertumbuhan cabai. Suhu ideal untuk budidaya cabai adalah antara 24-28 oC. Suhu yang terlalu rendah (di bawah 15 oC) atau terlalu tinggi (di atas 32 oC) dapat menghambat pertumbuhan dan menghasilkan buah yang kurang baik. Tanaman cabai juga membutuhkan penyinaran penuh, sehingga kekurangan sinar matahari dapat mengganggu pertumbuhannya. Curah hujan yang diinginkan untuk pertumbuhan cabai rawit adalah 800-2000 mm per tahun. Kelembaban tanaman yang optimal adalah sekitar 80%. Tanaman ini juga membutuhkan angin yang lembut, karena angin membantu menyediakan gas CO2 yang diperlukan. Tanah dengan lereng yang ideal untuk cabai adalah antara 0-100. Cabai rawit dapat tumbuh pada berbagai jenis tanah, mulai dari berpasir hingga liat, asalkan tanah tersebut memiliki banyak bahan organik, tekstur remah, tidak terlalu liat, dan tidak terlalu becek. pH tanah yang sesuai untuk pertumbuhan cabai adalah antara 5,5-6,8, dengan pH optimum sekitar 6-6,5 (Alif, 2017). Dengan demikian, tanah yang subur, iklim hangat dengan suhu dan curah hujan yang tepat, serta sinar matahari yang cukup, merupakan faktor penting yang berkontribusi pada pertumbuhan dan keberhasilan penanaman cabai rawit.

Sumber

Alif, S. M. (2017). Kiat Sukses Budidaya Cabai Rawit. Bio Genesis.

Bastian. (2016). Identifikasi Karakter Beberapa Varietas Cabai (Capsicum Annuum L.) Introduksi di Rumah Kaca. Universitas Lampung: Lampung.

Lawrence, G. H. M. (2017). Taxonomy of vascular plants. Scientific Publishers.

Paul, W. B., dan Eric, J. V. (2012). Peppers: Vegetable And Spice Capsicums (2 ed.).

Rusman, I. W., Suniti, N. W., Sumiartha, I. K., Sudiarta, I. P., Wirya, G., dan Utama, I. M. S. (2018). Pengaruh penggunaan beberapa paket teknologi terhadap perkembangan penyakit layu Fusarium pada tanaman cabai rawit (Capsicum frutescens L.) dan cabai besar (Capsicum annuum L.) di dataran tinggi. Jurnal Agroteknologi Tropika, 7(3), 354–362.


Lebih baru Lebih lama

نموذج الاتصال